Minggu, 22 November 2015

Deliza Venus

Itulah namanya. Cantik sesuai dengan yang menyandangnya. Perempuan tinggi dengan kulit seputih susu dan rambut panjangnya yang selalu tergerai indah, selalu membuatku terpesona. Mungkin bukan hanya aku, tetapi semua lelaki yang memandangnya.

Sejak SMP, kami memang selalu satu sekolah dan sejak saat itulah aku menyukainya. Aku tidak bisa berhenti mengaguminya. Banyak yang beranggapan dia adalah perempuan yang angkuh. Itu tidak benar. Sejauh yang aku tahu, dia adalah perempuan yang ramah. Hanya saja, dia terlalu pemilih dalam hal pertemanan. Aku cukup beruntung bisa menjadi temannya.

Hari ini hari Sabtu. Hari dimana ia harus bekerja sambilan sebagai seorang model. Dia bukanlah dari keluarga yang kekurangan finansial, bahkan termasuk keluarga terpandang. Aku bukan penguntit yang tahu segalanya tentangnya, aku hanya tahu karena dia bercerita padaku.

Aku melihat Dela berjalan di koridor menuju kantin. Kebiasaannya sebelum pulang kuliah. Tapi ada yang berbeda padanya hari ini. Dia terlihat terburu-buru. Ada apa ya? Apa aku harus menghampirinya?

“Coba sajalah,” gumamku.

Aku berjalan cepat menyusulnya ke kantin. “Kenapa, Del?” tanyaku langsung begitu bertemu dengannya.
“Gua lagi buru-buru, Yud. Masa katanya pemotretannya dimajuin gara-gara banyak baju yang harus dipake,” ujarnya sambil cemberut.

Aku mengulum senyum. Jujur, aku paling suka melihat raut wajahnya yang seperti itu. Dia tidak pernah menunjukkan emosinya ke sembarang orang, jadi aku cukup bangga bisa menjadi salah satu orang yang melihatnya. Aku mengulurkan tanganku dan menepuk puncak kepalanya pelan. Dia menatapku dengan mata melebar, membuatku menarik tanganku dengan cepat.

“Eh sorry. Refleks, Del,” ujarku salah tingkah. Sial, jadi canggung gini.
“Ah iya itu gapapa kok. Eh gua balik duluan ya. Buru-buru nih, Yud. Bye,” ujarnya sambil melambaikan tangan dan melangkah pergi menjauh. Aku tersenyum dan melambaikan tangan untuk membalas pamitnya.

Aku mengikuti kepergiannya hingga tubuhnya sudah tak sanggup dijangkau kedua mataku. Aku menatap tanganku yang menepuk kepalanya tadi dan tersenyum kecil. Pertama kalinya aku berani menyentuhnya. Rasanya menyenangkan.

****

Ketukan pintu kamar membangunkanku. “Yud, anterin gue dong,” ujar kak Ana dari depan pintu kamar.

Aku mengucek-ucek mataku sebelum berjalan membuka pintu. “Kemana?” tanyaku malas. Aku baru tidur satu jam yang lalu dan sudah dibangunkan. Siapa yang tidak kesal?
“Ke daerah Senayan. Urgent nih. Tolongin gue dooong,” pinta kak Ana memelas.

Kalo bukan kakak gue males deh gue pergi-pergi gini, rungutku dalam hati.

“Yaudah 10 menit lagi.”
“Yeay!! Lu emang adek gua yang paling bisa diandalkan,” pujinya kegirangan.
“Kalo ada maunya doang lu muji gue,” gerutuku dan berjalan masuk ke kamar mandi untuk siap-siap.

Sepuluh menit kemudian, aku sudah bersama kak Ana di dalam mobil.

“Mau ngapain ke Senayan?” tanyaku.
“Ada pameran buku. Gua mau beli novel yang udah gua incer lama. Kata temen gue ada disono,” ujarnya tak sabar.

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Walaupun umur kami hanya terpaut 3 tahun, tapi tingkah kak Ana terkadang seperti anak kecil. Tak heran sering membuat Papa cemas karena kepolosannya.

“Udah nyampe nih,” ujarku sambil meminggirkan mobil.

Kak Ana mengangkat wajahnya dari layar ponsel dan melihat keadaan sekitar. “Oh iya, hehe,” ujarnya sambil nyengir dengan wajah tak berdosa. Aku hanya mendesah melihatnya.

“Nanti ga perlu jemput gue. Gua bareng temen gue aja. Makasih, Yud. Ntar gua beliin komik kesukaan lu, ok?” ujarnya sambil siap-siap keluar dari mobil.
“Ga usah. Gua udah punya,” tolakku langsung.
“Loh emang udah keluar ya? Bukannya baru terbit kemaren?” tanyanya heran.
“Dan gua belinya kemaren,” jelasku.
“Buset, gece aja. Yaudah gua pergi ya. Bye,” ujarnya sambil mengacak-acak rambutku dan melangkah keluar dari mobil. Aku melihatnya berjalan menjauh dan mulai melajukan mobil.

Perjalanan yang kutempuh kali ini lumayan macet. Aku mengecek bensin pada dashboard. Habis. Aku mengamati sekeliling dan menemukan pom bensin tak jauh dari posisiku.

Sembari mengisi bensin, aku menelepon Dela untuk menjemputnya karena daerah ini tidak jauh dari lokasi pemotretannya dan ternyata dia memperbolehkanku. Aku segera menjalankan mobilku menuju tempat pemotretannya.

Aku mengernyitkan dahi bingung sesampainya di daerah pemotretannya. “Kalo jalanan ini dibenerin, trus Dela lewat mana?” gumamku. Aku memakirkan mobilku di depan sebuah ruko yang sudah tutup.

Aku mengirimkan pesan pada Dela.
Yudha: Del, gua di depan ruko ya. Ga bisa masuk ke gedung lu. Jalanan lagi dibenerin.
Dela: Oiya gua lupa ngasih tau tadi hahaha sorry. Bentar lagi gua selesai. Wait 15 menit lagi yak
Yudha: Okay.

Aku menunggu Dela di dalam mobil sambil mendengarkan lagu dari radio. Sudah satu jam dan Dela masih belum muncul juga. Firasatku mulai tak enak.

Akhirnya aku mengikuti instingku dan keluar dari mobil, kemudian mengintip ke dalam sebuah gang yang berada tak jauh dari situ. Aku terbelalak kaget melihat apa yang sedang terjadi di depanku. Dela sedang melawan tiga preman yang sedang menerjangnya. Aku tidak tahu jika Dela memiliki ilmu bela diri yang cukup tinggi. Tendangan dan pukulannya terlalu akurat untuk seorang pemula, ini berarti dia cukup expert dalam hal bertarung.

“DELA!!” teriakku begitu melihat Dela terkena pukulan di bagian pipinya. Aku berlari menghampirinya dan menendang orang yang menghalangiku.
“Del, gapapa? Sakit ga? Ada lagi yang luka?” tanyaku khawatir. Dia mengangkat wajahnya dan saat itulah pertama kalinya aku melihat sinar matanya berkilat marah.

Tiba-tiba dia mengangkat kakinya dan melawan orang yang hendak mengincar kepalaku.
“Minggir, Yud. Gua ga mau ada yang terluka gara-gara gua lagi,” ujar Dela dengan suara bergetar. Dia mendorongku menjauh dan melawan sendiri preman-preman itu.

Aku terpaku di tempatku berdiri. Apa yang baru saja dibicarakannya? Siapa yang dia maksud terluka?

Aku mengangkat wajahku dan melihat seorang preman ingin memukul Dela dengan sebuah balok kayu. Aku mengepalkan tanganku dan maju meninju preman itu di perutnya. Kemudian, kutinju lagi tepat di pelipisnya hingga dia pingsan. Aku memutar tubuhku untuk melawan preman satunya lagi. Aku melangkah maju mendekat pada preman itu dan mencengkeram bahunya dengan erat, kemudian menendang tepat di rusuknya hingga terdengar suara tulang patah. Orang itu tersungkur dan meringkuk kesakitan. Aku menendang bagian belakang kaki preman yang tersisa hingga dia jatuh berlutut di depan Dela.

“Minta maaf,” desisku.

Preman itu menatapku marah dan ingin memukulku, tapi aku lebih cepat darinya. Aku meninju rahangnya hingga keluar darah di sudut bibirnya.

“Sekarang atau lu ga akan pernah hidup lagi,” ancamku dengan nada dingin. Kutatap tepat di kedua  matanya dengan tatapan intimidasi. Wajahnya berubah menjadi ketakutan dan meminta maaf pada Dela. Tubuh Dela bergetar hebat. Aku tidak tahu apa yang sedang bergejolak di dalam dadanya, tapi yang pasti itu cukup membuatnya terpukul.

Aku merangkul Dela dan membawanya menuju mobilku. Sesampainya di dalam mobil, dia masih menatap kosong keadaan yang ada di depannya.

“Del,” panggilku lembut.
“Gue kira gue udah cukup kuat buat ngelawan orang lain, tapi ternyata engga, Yud. Gue masih lemah. Gue masih ga bisa ngelindungin diri gua sendiri, apalagi orang lain,” ujarnya mulai terisak. Air mata mengalir deras dari kedua matanya.

Rapuh. Itulah perasaan Dela yang kulihat saat ini. Aku memajukan tubuhku dan memeluk Dela. Tangisnya semakin pecah. Aku menepuk pelan punggungnya dan mengelusnya dengan lembut. Setelah tangisnya mulai mereda, aku melepas pelukanku.

“Udah mau cerita?” tanyaku. Dela mengangguk.

“Gua dulu punya kakak. Kita cuma beda setahun. Dia meninggal karna ngelindungin gue yang waktu itu masih 6 tahun. Kejadian itu terjadi waktu gue sama dia abis pulang sekolah dan kita dihadang sama 2 preman. Salah satu premannya narik gue. Kakak gue coba nahan kaki si preman itu, tapi preman yang satunya lagi malah ngedorong kakak gue sampe dia akhirnya jatoh kebentur batu. Kakak gue pingsan dan ngeluarin banyak darah. Preman-preman itu ketakutan dan akhirnya ninggalin gue sama kakak gue. Gue ga bisa ngapa-ngapain karna gue cuma anak kecil yang baru masuk sekolah,” ujar Dela dengan suara bergetar. Air mata mulai keluar lagi dari matanya. Aku masih diam untuk mendengarkan ceritanya.
“Gua teriak-teriak minta tolong sampe ada angkot yang kebetulan lewat situ. Padahal disitu gada jalur angkot. Sopir itu nolongin kita dan bawa kakak gua ke rumah sakit. Kakak gua koma dan akhirnya 2 hari kemudian meninggal,” lanjutnya dengan suara terisak.
“Semenjak itu, nyokap gue ngajarin gua ilmu bela dirinya. Sampe sekarang, gua ga bisa ga nyalahin diri gua sendiri. Kakak gua meninggal gara-gara gue, dan lo tadi juga hampir celaka. Kenapa semua orang yang deket sama gue selalu terluka? Apa gue orang pembawa bencana? Gue ga sanggup, Yud,” sesalnya dan menangis lebih menyakitkan dari sebelumnya. Aku mengelus punggung tangannya agar sedikit menenangkannya.

“Bukan salah lo, Del. Itu udah takdir dan jangan nyiksa diri lu sendiri dengan perasaan kayak gitu. Kakak lu pasti sedih liatnya,” ucapku lembut. Perkataanku membuat isakannya perlahan-lahan mulai mereda.

Dia melirikku dan tersenyum kecil. “Makasih, Yud, udah mau dengerin cerita gue,” ujarnya pelan.
Aku mengangguk. “Hmm, Del. Boleh gue jadi seseorang yang selalu ngejaga lu?” tanyaku hati-hati.
Dia menatapku lama dengan bingung. “Sebagai apa?”
Aku berdeham. “Sebagai pacar kalo bisa,” ucapku yakin sambil menatap lurus ke matanya. 
Jantungku mulai berdegup keras menunggu jawaban darinya.
Dia tersenyum perlahan dan mengangguk. “I’ll try,” jawabnya.
Aku tersenyum tulus padanya.

Mungkin selama ini aku hanya bisa menjagamu dari jauh. Tetapi sekarang selain melalui doa, aku bisa menjagamu dari dekat. Aku akan menjagamu semampuku agar kamu tidak terluka lagi dari orang-orang yang ingin menyakitimu. Kumohon, bertahanlah di dunia ini. Aku akan selalu berada di sampingmu untuk menemanimu.
-Yudha Bhyantara-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar