Itulah namanya.
Cantik sesuai dengan yang menyandangnya. Perempuan tinggi dengan kulit seputih
susu dan rambut panjangnya yang selalu tergerai indah, selalu membuatku
terpesona. Mungkin bukan hanya aku, tetapi semua lelaki yang memandangnya.
Sejak SMP, kami memang selalu
satu sekolah dan sejak saat itulah aku menyukainya. Aku tidak bisa berhenti
mengaguminya. Banyak yang beranggapan dia adalah perempuan yang angkuh. Itu
tidak benar. Sejauh yang aku tahu, dia adalah perempuan yang ramah. Hanya saja,
dia terlalu pemilih dalam hal pertemanan. Aku cukup beruntung bisa menjadi
temannya.
Hari ini hari Sabtu. Hari dimana
ia harus bekerja sambilan sebagai seorang model. Dia bukanlah dari keluarga
yang kekurangan finansial, bahkan termasuk keluarga terpandang. Aku bukan
penguntit yang tahu segalanya tentangnya, aku hanya tahu karena dia bercerita
padaku.
Aku melihat Dela berjalan di
koridor menuju kantin. Kebiasaannya sebelum pulang kuliah. Tapi ada yang
berbeda padanya hari ini. Dia terlihat terburu-buru. Ada apa ya? Apa aku harus
menghampirinya?
“Coba sajalah,” gumamku.
Aku berjalan cepat menyusulnya ke
kantin. “Kenapa, Del?” tanyaku langsung begitu bertemu dengannya.
“Gua lagi buru-buru, Yud. Masa
katanya pemotretannya dimajuin gara-gara banyak baju yang harus dipake,”
ujarnya sambil cemberut.
Aku mengulum senyum. Jujur, aku
paling suka melihat raut wajahnya yang seperti itu. Dia tidak pernah
menunjukkan emosinya ke sembarang orang, jadi aku cukup bangga bisa menjadi
salah satu orang yang melihatnya. Aku mengulurkan tanganku dan
menepuk puncak kepalanya pelan. Dia menatapku dengan mata melebar, membuatku menarik
tanganku dengan cepat.
“Eh sorry. Refleks, Del,” ujarku salah tingkah. Sial, jadi canggung
gini.
“Ah iya itu gapapa kok. Eh gua
balik duluan ya. Buru-buru nih, Yud. Bye,”
ujarnya sambil melambaikan tangan dan melangkah pergi menjauh. Aku tersenyum
dan melambaikan tangan untuk membalas pamitnya.
Aku mengikuti kepergiannya hingga
tubuhnya sudah tak sanggup dijangkau kedua mataku. Aku menatap tanganku yang
menepuk kepalanya tadi dan tersenyum kecil. Pertama kalinya aku berani
menyentuhnya. Rasanya menyenangkan.
****
Ketukan pintu kamar
membangunkanku. “Yud, anterin gue dong,” ujar kak Ana dari depan pintu kamar.
Aku mengucek-ucek mataku sebelum
berjalan membuka pintu. “Kemana?” tanyaku malas. Aku baru tidur satu jam yang
lalu dan sudah dibangunkan. Siapa yang tidak kesal?
“Ke daerah Senayan. Urgent nih. Tolongin gue dooong,” pinta
kak Ana memelas.
Kalo bukan kakak gue males deh
gue pergi-pergi gini, rungutku dalam hati.
“Yaudah 10 menit lagi.”
“Yeay!! Lu emang adek gua yang
paling bisa diandalkan,” pujinya kegirangan.
“Kalo ada maunya doang lu muji
gue,” gerutuku dan berjalan masuk ke kamar mandi untuk siap-siap.
Sepuluh menit kemudian, aku sudah
bersama kak Ana di dalam mobil.
“Mau ngapain ke Senayan?”
tanyaku.
“Ada pameran buku. Gua mau beli
novel yang udah gua incer lama. Kata temen gue ada disono,” ujarnya tak sabar.
Aku menggeleng-gelengkan kepala.
Walaupun umur kami hanya terpaut 3 tahun, tapi tingkah kak Ana terkadang
seperti anak kecil. Tak heran sering membuat Papa cemas karena kepolosannya.
“Udah nyampe nih,” ujarku sambil
meminggirkan mobil.
Kak Ana mengangkat wajahnya dari
layar ponsel dan melihat keadaan sekitar. “Oh iya, hehe,” ujarnya sambil
nyengir dengan wajah tak berdosa. Aku hanya mendesah melihatnya.
“Nanti ga perlu jemput gue. Gua
bareng temen gue aja. Makasih, Yud. Ntar gua beliin komik kesukaan lu, ok?”
ujarnya sambil siap-siap keluar dari mobil.
“Ga usah. Gua udah punya,” tolakku
langsung.
“Loh emang udah keluar ya? Bukannya
baru terbit kemaren?” tanyanya heran.
“Dan gua belinya kemaren,”
jelasku.
“Buset, gece aja. Yaudah gua pergi
ya. Bye,” ujarnya sambil
mengacak-acak rambutku dan melangkah keluar dari mobil. Aku melihatnya berjalan
menjauh dan mulai melajukan mobil.
Perjalanan yang kutempuh kali ini
lumayan macet. Aku mengecek bensin pada dashboard.
Habis. Aku mengamati sekeliling dan menemukan pom bensin tak jauh dari
posisiku.
Sembari mengisi bensin, aku
menelepon Dela untuk menjemputnya karena daerah ini tidak jauh dari lokasi pemotretannya dan ternyata dia memperbolehkanku. Aku segera
menjalankan mobilku menuju tempat pemotretannya.
Aku mengernyitkan dahi bingung
sesampainya di daerah pemotretannya. “Kalo jalanan ini dibenerin, trus Dela
lewat mana?” gumamku. Aku memakirkan mobilku di depan sebuah ruko yang sudah
tutup.
Aku mengirimkan pesan pada Dela.
Yudha: Del, gua di depan ruko ya. Ga bisa masuk ke gedung lu.
Jalanan lagi dibenerin.
Dela: Oiya gua lupa ngasih tau tadi hahaha sorry. Bentar lagi gua selesai. Wait
15 menit lagi yak
Yudha: Okay.
Aku menunggu Dela di dalam mobil
sambil mendengarkan lagu dari radio. Sudah satu jam dan Dela masih belum muncul juga. Firasatku mulai tak enak.
Akhirnya aku mengikuti instingku
dan keluar dari mobil, kemudian mengintip ke dalam sebuah gang yang berada tak
jauh dari situ. Aku terbelalak kaget melihat apa yang sedang terjadi di depanku.
Dela sedang melawan tiga preman yang sedang menerjangnya. Aku tidak tahu jika
Dela memiliki ilmu bela diri yang cukup tinggi. Tendangan dan pukulannya
terlalu akurat untuk seorang pemula, ini berarti dia cukup expert dalam hal bertarung.
“DELA!!” teriakku begitu melihat
Dela terkena pukulan di bagian pipinya. Aku berlari menghampirinya dan menendang
orang yang menghalangiku.
“Del, gapapa? Sakit ga? Ada lagi
yang luka?” tanyaku khawatir. Dia mengangkat wajahnya dan saat itulah pertama
kalinya aku melihat sinar matanya berkilat marah.
Tiba-tiba dia mengangkat kakinya
dan melawan orang yang hendak mengincar kepalaku.
“Minggir, Yud. Gua ga mau ada
yang terluka gara-gara gua lagi,” ujar Dela dengan suara bergetar. Dia
mendorongku menjauh dan melawan sendiri preman-preman itu.
Aku terpaku di tempatku berdiri.
Apa yang baru saja dibicarakannya? Siapa yang dia maksud terluka?
Aku mengangkat wajahku dan
melihat seorang preman ingin memukul Dela dengan sebuah balok kayu. Aku mengepalkan
tanganku dan maju meninju preman itu di perutnya. Kemudian, kutinju lagi
tepat di pelipisnya hingga dia pingsan. Aku memutar tubuhku untuk melawan
preman satunya lagi. Aku melangkah maju mendekat pada preman itu dan mencengkeram
bahunya dengan erat, kemudian menendang tepat di rusuknya hingga terdengar
suara tulang patah. Orang itu tersungkur dan meringkuk kesakitan. Aku menendang
bagian belakang kaki preman yang tersisa hingga dia jatuh berlutut di depan
Dela.
“Minta maaf,” desisku.
Preman itu menatapku marah dan
ingin memukulku, tapi aku lebih cepat darinya. Aku meninju rahangnya hingga
keluar darah di sudut bibirnya.
“Sekarang atau lu ga akan pernah
hidup lagi,” ancamku dengan nada dingin. Kutatap tepat di kedua matanya dengan tatapan intimidasi. Wajahnya berubah menjadi
ketakutan dan meminta maaf pada Dela. Tubuh Dela bergetar hebat. Aku tidak tahu
apa yang sedang bergejolak di dalam dadanya, tapi yang pasti itu cukup membuatnya
terpukul.
Aku merangkul Dela dan membawanya
menuju mobilku. Sesampainya di dalam mobil, dia masih menatap kosong keadaan
yang ada di depannya.
“Del,” panggilku lembut.
“Gue kira gue udah cukup kuat
buat ngelawan orang lain, tapi ternyata engga, Yud. Gue masih lemah. Gue masih
ga bisa ngelindungin diri gua sendiri, apalagi orang lain,” ujarnya mulai
terisak. Air mata mengalir deras dari kedua matanya.
Rapuh. Itulah perasaan Dela yang
kulihat saat ini. Aku memajukan tubuhku dan memeluk Dela. Tangisnya semakin
pecah. Aku menepuk pelan punggungnya dan mengelusnya dengan lembut. Setelah
tangisnya mulai mereda, aku melepas pelukanku.
“Udah mau cerita?” tanyaku. Dela
mengangguk.
“Gua dulu punya kakak. Kita cuma
beda setahun. Dia meninggal karna ngelindungin gue yang waktu itu masih 6
tahun. Kejadian itu terjadi waktu gue sama dia abis pulang sekolah dan kita
dihadang sama 2 preman. Salah satu premannya narik gue. Kakak gue coba nahan
kaki si preman itu, tapi preman yang satunya lagi malah ngedorong kakak gue
sampe dia akhirnya jatoh kebentur batu. Kakak gue pingsan dan ngeluarin banyak
darah. Preman-preman itu ketakutan dan akhirnya ninggalin gue sama kakak gue.
Gue ga bisa ngapa-ngapain karna gue cuma anak kecil yang baru masuk sekolah,”
ujar Dela dengan suara bergetar. Air mata mulai keluar lagi dari matanya. Aku
masih diam untuk mendengarkan ceritanya.
“Gua teriak-teriak minta tolong
sampe ada angkot yang kebetulan lewat situ. Padahal disitu gada jalur angkot.
Sopir itu nolongin kita dan bawa kakak gua ke rumah sakit. Kakak gua koma dan
akhirnya 2 hari kemudian meninggal,” lanjutnya dengan suara terisak.
“Semenjak itu, nyokap gue
ngajarin gua ilmu bela dirinya. Sampe sekarang, gua ga bisa ga nyalahin diri
gua sendiri. Kakak gua meninggal gara-gara gue, dan lo tadi juga hampir celaka.
Kenapa semua orang yang deket sama gue selalu terluka? Apa gue orang pembawa
bencana? Gue ga sanggup, Yud,” sesalnya dan menangis lebih menyakitkan dari
sebelumnya. Aku mengelus punggung tangannya agar sedikit menenangkannya.
“Bukan salah lo, Del. Itu udah
takdir dan jangan nyiksa diri lu sendiri dengan perasaan kayak gitu. Kakak lu
pasti sedih liatnya,” ucapku lembut. Perkataanku membuat isakannya
perlahan-lahan mulai mereda.
Dia melirikku dan tersenyum
kecil. “Makasih, Yud, udah mau dengerin cerita gue,” ujarnya pelan.
Aku mengangguk. “Hmm, Del. Boleh
gue jadi seseorang yang selalu ngejaga lu?” tanyaku hati-hati.
Dia menatapku lama dengan
bingung. “Sebagai apa?”
Aku berdeham. “Sebagai pacar kalo
bisa,” ucapku yakin sambil menatap lurus ke matanya.
Jantungku mulai berdegup
keras menunggu jawaban darinya.
Dia tersenyum perlahan dan
mengangguk. “I’ll try,” jawabnya.
Aku tersenyum tulus padanya.
Mungkin selama ini aku hanya bisa menjagamu dari jauh. Tetapi sekarang
selain melalui doa, aku bisa menjagamu dari dekat. Aku akan menjagamu semampuku
agar kamu tidak terluka lagi dari orang-orang yang ingin menyakitimu. Kumohon,
bertahanlah di dunia ini. Aku akan selalu berada di sampingmu untuk menemanimu.
-Yudha Bhyantara-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar