Cinta dan Rahasia
by: Marina Septiani
Kata “diam” melekat dan bersahabat baik denganku semenjak aku mencintai dirimu, sahabatku bernama Rio. Kami bersahabat sudah hampir 3 tahun. Dia adalah sahabatku semenjak aku masuk dunia perkuliahan. Rio, seorang lelaki yang sangat humble dan friendly, terkadang membuatku bingung. Ia bersikap begitu manis dan berbeda padaku, namun tak jarang pula ia bersikap seperti itu pada perempuan lain. Dia sering membuatku gemas dengan segala kejahilannya. Tidak ada satu haripun tanpa menggodaku. Jujur, aku menyukai momen itu. Terlebih tak pernah satu haripun aku bersedih.
Hari ini, aku pulang bersama Rio karena motorku sedang berada di bengkel.
“Pegangan, nanti lu terbang,”
kata Mario, lalu menarik tanganku untuk memeluknya.
“Dasar modus.“
Namun, rasa nyaman itu menyusup ke dalam tubuhku. Aku merasa aman jika berada didekatnya. Detak jantung kurang ajar, ia berdetak sekencang itu, bagaimana jika Mario mendengarnya? Aku mengutuk detak jantungku yang selalu saja berdendang ria disana. Aku berusaha melepas pelukan itu, tapi ia menahan tanganku.
“Ga usah dilepas, gue suka irama
detak jantung lu,” katanya masih fokus pada jalanan.
Aku merasa wajahku memanas, ini pasti karena sudah seperti kepiting rebus sekarang. Demi Zeus yang punya tombak petir! Kenapa dia bisa bicara santai seperti itu?
“Lu beneran mau kesana?” tanyanya memecah keheningan diantara kami dan mulai memelankan kecepatan motornya.
“Kesana kemana?” tanyaku bingung.
Perlu diketahui, kadang otakku memang agak lola (loading lama).
“Australi, Tik.”
“Iya,” jawabku seadanya.
“Berapa lama?”
“2 bulan.”
“Lama juga,” Rio diam sejenak,
“nanti kalau disana, jangan lupa makan. Jangan jalan-jalan mulu nanti lu
nyasar. Disini aja lu ga tau jalan, gimana nanti disana? Trus tidurnya tepat
waktu, jangan begadang mulu. Kalau ada waktu, sesekali skype gue, terus--”
“Bawel banget sih lu, kayak emak
gue aja,” potongku.
“Terserah lu lah,” ucapnya ketus.
Jeh ini manusia kenapa dah?
Sepanjang perjalanan pulang, akhirnya kami saling diam satu sama lain, lagi. Setelah sampai didepan rumahku, ia langsung pulang tanpa pamit. Sepertinya ia marah dengan perkataanku tadi, tapi biarkan saja. Kadang aku tak tahan dengan mulut cerewetnya itu, dan jauh lebih baik jika dia marah atau tidak perhatian seperti itu kepadaku sehingga aku tak perlu merasa bahwa dia memiliki perasaan yang sama kepadaku.
****
Besok adalah hari keberangkatanku ke Australia untuk pertukaran pelajar. Hari ini aku harus mengurus untuk keperluan disana. Aku harus pamit kepada Kajur-ku terlebih dahulu. Setelah selesai, aku menunggu para sahabatku sebelum pulang. Rasanya kurang lengkap jika tidak bertemu mereka.
Tiba-tiba, aku teringat perkataan sahabatku, Mona.
“Mau sampai kapan disimpan terus?” tanya Mona dengan gemas.
“Kalau dikasih tahu nanti dia ngejauh, Mon, aku ga mauuuuu,” rengekku.
“Dia ga bakal ngejauh. Kasian hati kamu lho, nahan sakit terus. Ya
setidaknya kasih hati kamu ruang untuk jujur, Tik. Satu kali atau ga sama
sekali, daripada seumur hidup kamu nanti nyesel. Gimana nanti pas kamu pulang
ke Indonesia ternyata dia udah pergi? Nyesel kamu pasti,” kata Mona dengan
logat Sunda yang kental.
“Heh! Kamu sembarangan aja kalau ngomong,” ucapku sebal. Namun, ada
rasa sesak yang tiba-tiba datang. Mengapa keinginanku untuk jujur semakin
besar?
“TIKAAAAAAA!!!!” teriak Rio tepat di telingaku, sontak membuatku terkejut dan membuyarkan semua lamunanku. Aku langsung mengucapkan kata maaf.
Kemudian, kami pun beranjak pergi ke tempat makan langganan kami. Aku tak bisa menahan tawaku. Mereka saling mengejek satu sama lain serta keluhan Mahdi tentang teman-teman di kelas kami. Mereka selalu punya bahan obrolan yang tak henti kami tertawakan sendiri.
Setelah selesai, seperti biasanya aku pulang dengan Rio. Aku mengajak Rio ke taman dekat kampus. Rio yang awalnya protes, akhirnya mengikuti mauku juga. Mungkin sudah saatnya aku mengatakan sejujurnya apa yang aku rasakan padanya, atau mungkin aku hanya akan kembali diam.
Kami mencari tempat duduk di sebelah pohon yang rindang. Rio sempat ragu, namun malah dia yang lebih dulu duduk. Dasar cowo aneh, etapi aku lebih aneh sih.
“Mau kesambet lu disini?” tanyanya.
“Adem kampret. Lu protes tapi lu
sendiri yang duluan duduk. Pea juga,” kataku ketus. Dia hanya mencibir.
Kami diam satu sama lain. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Menikmati setiap udara yang aku hirup. Wangi parfumnya pasti akan aku rindukan selama disana. Aku memejamkan mataku, menyimpan segala yang terjadi hari ini dalam kepalaku. Aku merasa tangannya merangkul bahuku. Nyaman sekali. Seandainya aku bisa membuat waktu berhenti untuk kali ini saja.
Kupikir, sudah tak ada rasa takut lagi jika cinta itu akan meluap bersama rasa bahagiaku sekarang. Aku mengangkat kepalaku dan duduk dengan tegak. Ia melepaskan rangkulannya dan melihatku dengan senyumannya yang menawan.
“Boleh gue peluk lu sebentar?” pintaku. Ia mengangguk.
Aku memeluknya, rasa hangat itu mengalir ke aliran darahku. Aku menenggelamkan kepalaku dalam dadanya. Aku mendengar detak jantungku seirama dengan detak jantung Rio. Ada rasa bahagia yang tak bisa aku ungkapkan. Ada yang pernah bilang jika setiap detak jantung orang itu berbeda, tapi bagaimana dengan detak jantung yang kudengar seirama ini? Aku menyukai iramanya, lebih indah dari petikan gitar yang tercipta dari permainan seorang ahli musik.
Aku merasa pelukan itu semakin hangat dan erat. Aku menahan air mataku untuk tidak jatuh. Bersamaan dari rasa itu, ada rasa sakit dan sesak yang bertubi-tubi menyiksaku. Aku tidak ingin melepasnya, tidak ingin kehilangannya. Aku masih ingin bersamanya. Merasakan hangat tubuh dan tangan kekar yang seperti ingin melindungiku. Dengan berat hati aku mencoba melepaskan pelukan ini, namun ia menahanku.
“Jangan dilepas. Gue pengen peluk lu lebih lama. Gue ngerasa lu kayak mau ninggalin gue. Tolong, jangan ngasih gue salam perpisahan, Tik. Gue ga sanggup,” bisiknya.
Aku mematung mendengar itu. Setelah pertukaran pelajar nanti, aku berencana untuk pindah kampus. Karena menyimpan semua rasa ini akan menyiksaku di setiap harinya. Kemungkinan terburuk adalah ia tidak akan mau bersahabat denganku lagi setelah ini. Akhirnya aku menangis di dalam peluknya.
Kami melepas pelukan itu satu sama lain. Dia menghapus air mata yang masih tersisa di sudut mataku. Ia memberikan senyuman tulus dan membuatku semakin berat untuk merelakannya.
“Lu akan selalu jadi sahabat terbaik gue. Jangan berpikir gue akan menjauh. Apapun yang terjadi. Ingat itu,” kata dia yakin, aku mengangguk dengan cepat. Tanpaku minta, air mata itu turun kembali. Dia tertawa.
“Dasar cengeng,” godanya. Dengan
cepat aku hapus air mataku dan mencubit berkali-kali perutnya. Ia merintih
kesakitan dan meminta ampun. Akhirnya kami tertawa bersama.
“Hmm, Ri, “ panggilku. Rio
bergumam untuk menjawab panggilanku.
“Gue pulang sendiri aja ya. Di
pohon itu udah gue taro botol, isinya surat buat lu. Pokoknya jangan dibaca
atau diambil sebelum gue pergi. Janji?” jelasku dan menunjuk pohon
dibelakangnya, ia menoleh sebentar kemudian mengangguk. Aku pamit untuk pergi
dan meninggalkannya seorang diri.
Rio menghampiri pohon tersebut dan mengelilinginya. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya ia menemukan botol tersebut. Dengan ragu ia membuka botol tersebut dan mengambil surat di dalamnya. Ia membuka surat itu dengan perlahan, namun seketika ia membeku setelah membaca isi dari surat itu.
Aku mencintaimu seperti seorang perempuan kepada lelakinya, bukan sahabat. Aku tahu aku bukanlah seorang perempuan yang selalu kau kagumi, tapi biarkanlah diri ini untuk selalu mencintaimu dalam diam. Aku bukanlah perempuan yang pantas bersanding denganmu, tapi percayalah aku akan membantumu untuk menjadi pribadi yang pantas untuk bersanding dengan seseorang yang kamu cinta. Kamu tahu? Hadirmu adalah salah satu alasan wajibku untuk selalu tersenyum.
Aku terlalu takut untuk bilang
bukan karena aku seorang pengecut, tapi karena aku tahu perbedaan itu terlalu
jauh untuk dilewati. Tembok itu terlalu kuat untuk dirobohkan atau memang aku
sengaja tidak merobohkan tembok itu, karena pada akhirnya kita akan saling
tersakiti. Aku tidak tahu tentang perasaanmu, tapi maafkan aku jika kejujuranku
membuatmu terluka. Jika kamu tahu dan kamu tidak lagi ingin menjadi sahabatku
lagi, tidak apa.
Terima kasih sudah menjagaku.
Menjaga senyumanku, selalu berusaha membuatku nyaman dan aman.
-Atika-
“Seandainya kita terlahir dalam agama yang sama, mungkin kita udah bersama. Kita mengalah pada perbedaan yang kita mau agar tetap jadi berbeda. Gue ataupun lu lebih sayang sama Tuhan kita daripada sama manusia itu sendiri. Gue akan selalu tetep jadi sahabat lu, Tik,” ucapnya bicara seorang diri.
“Gue ga berbeda jauh dengan
seorang pengecut yang ga berani untuk ngungkapin apa yang gue rasain. Gue
terlalu gengsi. Gue kalah sama cewek kayak lu, Tik,” ucapnya lirih sambil menundukkan
kepala.
“Seengganya gue tahu kalau lu ngebales cinta gue dan itu lebih dari cukup, Ri,” kataku lirih yang sedari tadi memperhatikannya dari jarak yang tak begitu jauh dan masih mampu mendengar suaranya. Aku membalikkan badan dan pulang dengan beban yang menguap bersama angin. Senyuman itu tidak lepas dari wajahku.
****
Sepulangnya dari Australia, semua sahabat dan keluargaku menjemputku di bandara. Kerinduanku begitu besar kepada mereka. Aku menghampiri keluargaku terlebih dahulu, memeluk ibuku, salim pada ayahku dan mencium adik-adikku. Aku menghampiri Mona, memeluknya dengan erat. Rio, Tian, Mahdi, Ridwan, dan Billy menjitakku bersamaan. Membuatku merintih kesakitan dan mereka justru tertawa.
“Bantuin kita ngerjain tugas dong, ga ada lu kita kesusahan tau. Lu sih lama banget perginya. Mau ya?” kata Rio dengan memainkan alisnya.
“Yee si kampret. Baru juga gue
dateng,” kataku ketus.
Namun ada perasaan bahagia disana. Dia membuktikan janjinya, ia tetap menjadi sahabatku dan tidak berubah sama sekali. Aku bersyukur akan hal itu. Keputusanku membatalkan rencana untuk pindah kampus adalah benar. Ternyata Tuhan merestui itu dan semua baik-baik saja.
Note:
Cerita ini adalah karangan dari
sahabat baik saya sendiri. Dia memang masih penulis amatir, tapi saya suka
dengan tulisan-tulisannya, terutama puisi. Dia lebih ahli dalam menulis puisi
daripada cerita. Tapi tetap, saya bangga menjadi sahabatnya :3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar